Mengajarkan Bahasa Pemrograman Web di SMK RPL

22 April 2014
Rekayasa Perangkat Lunak, atau disingkat RPL, merupakan salah satu kompetensi keahlian dalam spektrum kurikulum kelompok Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kemampuan membuat halaman web statis dan dinamis adalah dua di antara kompetensi-kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap lulusan SMK RPL ini seperti yang tercantum dalam SKKD (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) Badan Standar Nasional Pendidikan Indonesia. Anda dapat mengunduh file SKKD ini di download.smkdki.net (terakhir saya akses pada 21 April 2014).

Yang membuat saya sedikit heran dari SKKD tersebut ialah adanya item kompetensi dasar yang berbunyi "membuat aplikasi web berbasis JSP". Kenapa harus dispesifikkan ke bahasa pemrograman JSP saja? Itu yang membuat saya bertanya-tanya.

JSP, kependekan dari Java Server Page, adalah bahasa pemrograman untuk membuat halaman web dinamis dengan menggunakan bahasa pemrograman Java. Penggunaan bahasa Java dalam JSP bisa dimaklumi karena kedua-duanya dibuat Sun Microsystems. Sebagai bahasa pemrograman web, JSP layak dipelajari oleh setiap peserta didik di SMK kompetensi keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Para peserta didik pun dapat belajar bahasa pemrograman komputer secara umum melalui JSP ini.

Namun penyantuman item JSP secara khusus dalam SKKD di atas dapat membingungkan karena terkesan membatasi bahasa pemrograman web yang sebenarnya bukan hanya JSP.

Perl, ASP, PHP, serta Ruby adalah beberapa contoh bahasa pemrograman web patut pula diperhitungkan dan dipelajari. Dua yang disebut terakhir bahkan terbilang cukup populer pada 2014, seperti dapat disimak laporannya di blog.codeeval.com, jauh lebih populer dari JSP.

Popularitas tentu tidak bisa dijadikan ukuran bahwa suatu bahasa pemrograman lebih baik dari bahasa pemrograman lainnya. Namun, paling tidak, hal ini bisa menjadi gambaran bahwa bahasa-bahasa pemrograman populer tersebut tidak akan hilang dari peredaran untuk beberapa atau bahkan puluh tahun ke depan.

Pada gilirannya, ini dapat memberi rasa aman baik bagi guru maupun peserta didik bahwa materi yang dipelajarinya bersinggungan dengan kenyataan yang ada; bukan mempelajari sesuatu yang mungkin tidak akan diperlukan lagi oleh para pemegang kepentingan, seperti perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja kelak.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan suatu bahasa pemrograman tertentu, dalam hal ini JSP. Saya percaya bahwa setiap bahasa pemrograman memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pun memiliki peminatnya masing-masing.

Suatu persoalan pemrograman sangat mungkin tidak dapat diatasi oleh suatu bahasa tertentu, tetapi dengan mudah dapat ditangani oleh bahasa yang lain. Demikian sebaliknya. Memiliki kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa pemrograman pada akhirnya akan membantu kita mengatasi persoalan-persoalan tersebut dengan lebih mudah dan efektif.

Dalam hubungannya dengan pengajaran materi bahasa pemrograman berbasis web di tingkat sekolah menengah kejuruan, JSP tetap bisa menjadi pilihan, tapi bukan satu-satunya pilihan. Para peserta didik dapat pula mempelajari PHP atau Ruby.

Apabila PHP atau Ruby merupakan satu-satunya bahasa pemrograman yang dikuasai guru terkait, maka pihak sekolah tidak perlu memaksakan peserta didik mempelajari JSP, karena, sekali lagi, baik PHP maupun Ruby adalah bahasa pemrogram yang juga dapat digunakan untuk membuat halaman web dinamis, sama halnya JSP.

Menurut saya, SKKD tidak harus dipandang sebagai pedoman kaku. Ia lebih tepat jika kita posisikan sebagai rekomendasi standar untuk pengembangan kurikulum yang akan diberlakukan di SMK kompetensi keahlian RPL masing-masing. Situasi, kondisi, dan kebutuhan setiap tingkat satuan pendidikan pastilah berbeda-beda, sehingga penerapan SKKD yang lebih fleksibel sangat dimungkinkan.

Sekadar opini! :)